Tasbih kayu Cendana
Aku baru sadar setelah terbaring di
bangsal kesehatan. Rupanya aku tadi pingsan. Tampak beberapa orang
mengerumuniku. Ada Toyib, pak Asror, dok.Elih dan Annah.
“Syukurlah, kau sudah sadar...” kata
dok.Elih.
”Ton, selamat ya. Kamu adalah pahlawan
tim kami. Tanpamu kami sudah dibuat malu lawan. Kami bangga memiliki petugas
haji seperti anda,” ucap pak Asror tersenyum lebar. ”Iya, dia bahkan sampai
pingsan demi kemenangan tim kita. Kucatat separuh lebih angka yang kita dapat
berasal dari bolanya di babak ketiga,” ujar Topyib.
”Annah ingin mengucapkan sesuatu ?”
tanya pak Asror.
”Atau kita keluar dulu pak, memberi
kesempatan pada yang muda,” minta dok.Elih.
”Eh dulu kan dokter yang minta Sugihartoni tidak mendekati Anna,”
canda pak Asror. Dok.Elih pun malu dan menggandeng keluar tangan pak Asror.
Kini tinggal aku dan Annah. Rahangku
masih sakit kena smash yang telak semalam. Annah duduk disampingku. Aku pikir
ini moment yang tepat untuk mengatakan sesuatu padanya. Sebenarnya aku
sudah menyiapkan surat tapi urung kusampaikan. Aku tahu dia mau menikah.
”Ton terimakasih, kamu telah
menyelamatkan tim kita dari kekalahan. Aku sangat
mengagumi penampilanmu,”
“Terimakasih Annah , kamu gadis yang
baik. Oh ya, kabarnya kamu akan menikah?” Lagi-lagi Annah tidak bisa
menyembunyikan perasaannya.
”Maafkan, aku telah menerima lamaran
seseorang,” katanya tersendat-sendat
” Siapa?”
”Di kotaku ada seorang ustads ternama,
ustads Mansyur melamarku untuk keponakannya. Waktu itu aku menolaknya karena
aku masih menunggu teman dekatku, dari Malaysia.”
”Iya, Bidan Dedeh pernah bercerita
tentang dokter itu,”
Annah diam sejenak diambilnya sapu
tangan untuk menyeka Air matanya. Dia menceritakan perihal lamaran ustads
hingga ia menerimanya. Aku mendengarkan sambil rebahan. Kutatap kosong
langit-langit. Mataku berlinang. Tak tahan mendengar cerita Annah. Tapi aku tak
bisa
menyalahkannya.
”Sebelum aku memberi keputusan ke
ustads, aku menelponmu, aku ingin minta pendapatmu, sayang ponselmu nggak
aktif. Akhirnya kuterima lamaran mereka, tiga hari lagi insya Allah aku menikah
di depan Kabah,”
Aku diam mematung. Saat Annah menelpon hapeku ketinggalan karena aku pergi
menemu Soraya yang dilanda musibah. Aku harus menghadapi kenyataan. Kucoba
membaca pikirannya.
”Kamu ikhlaskan Ton, aku menikah dengan
orang lain?”
Aku sulit menjawabnya. Dia bertanya
saat sudah membuat keputusan. Aku tidak punya jawaban lain.
“Insya Allah Annah, jagalah harga
dirimu dan martabat keluargamu. Kalau kau sudah berjanji janganlah mengingkari.
Meski bagiku berat, tapi aku lebih keberatan lagi kalau Allah akan melaknatmu
gara-gara kau ingkari janji.”
“Wahai wanita suci, rekatkanlah
silaturahmi. Jagalah ukhuwah Islamiyah. Jagalah nama baik keluargamu Jangan
pikirkan aku, aku orang biasa belum tentu bisa membahagiakanmu.’ Annah menangis. Andaikan agama ini tak melarang aku ingin
mengusap air matanya. Aku ingin mendekapnya supaya dia tidak sedih. Gadis itu
mengambil sesuatu dari tasnya.
”Ton, terimakasih mushab darimu cantik
sekali. Aku punya kenang-kenangan untukmu. Ini tasbih milik ayahku. Kemana-mana
aku bawa. Kini kuberikan padamu, supaya kita bisa menjalin silaturahmi
selamanya,”
Kupandangi wajah Annah. Kujulurkan
tangan menerimanya. Sebuah tasbih dari kayu cendana. Dari luar Toyib berteriak
mengajakku makan. Aku pun meninggalkan gadis itu.
”Jaga diri baik-baik Annah, semoga
bahagia,” kataku. Matanya sayu. Aku tak tahu apakah setelah ini masih bisa
melihat gadis Melayu itu lagi.
Toyib tahu aku berduka. Sebenarnya aku
tak selera makan, tapi kupaksa mulut ini
mengunyah.
”Berita pernikahan Annah sudah menyebar
ke mana-mana. Hampir semua petugas
membicarakannya,” ujarnya. ”Toyib...
memang jodoh urusan Tuhan. Tapi dalam kasus ini, aku ikut andil atas keputusan
Annah, karena aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku. ” ”Sudahlah,
lupakanlah Annah.,” katanya menepuk pundakku.
***

