Rabu, 26 Agustus 2015

NOVEL : Sepenggal Cinta di Padang Pasir




Tasbih kayu Cendana

Aku baru sadar setelah terbaring di bangsal kesehatan. Rupanya aku tadi pingsan. Tampak beberapa orang mengerumuniku. Ada Toyib, pak Asror, dok.Elih dan Annah.
“Syukurlah, kau sudah sadar...” kata dok.Elih.
”Ton, selamat ya. Kamu adalah pahlawan tim kami. Tanpamu kami sudah dibuat malu lawan. Kami bangga memiliki petugas haji seperti anda,” ucap pak Asror tersenyum lebar. ”Iya, dia bahkan sampai pingsan demi kemenangan tim kita. Kucatat separuh lebih angka yang kita dapat berasal dari bolanya di babak ketiga,” ujar Topyib.
”Annah ingin mengucapkan sesuatu ?” tanya pak Asror.
”Atau kita keluar dulu pak, memberi kesempatan pada yang muda,” minta dok.Elih.
”Eh dulu kan dokter  yang minta Sugihartoni tidak mendekati Anna,” canda pak Asror. Dok.Elih pun malu dan menggandeng keluar tangan pak Asror.
Kini tinggal aku dan Annah. Rahangku masih sakit kena smash yang telak semalam. Annah duduk disampingku. Aku pikir ini moment yang tepat untuk mengatakan sesuatu padanya. Sebenarnya aku sudah menyiapkan surat tapi urung kusampaikan. Aku tahu dia mau menikah.
”Ton terimakasih, kamu telah menyelamatkan tim kita dari kekalahan. Aku sangat
mengagumi penampilanmu,”
“Terimakasih Annah , kamu gadis yang baik. Oh ya, kabarnya kamu akan menikah?” Lagi-lagi Annah tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
”Maafkan, aku telah menerima lamaran seseorang,” katanya tersendat-sendat
” Siapa?”
”Di kotaku ada seorang ustads ternama, ustads Mansyur melamarku untuk keponakannya. Waktu itu aku menolaknya karena aku masih menunggu teman dekatku, dari Malaysia.”
”Iya, Bidan Dedeh pernah bercerita tentang dokter itu,”
Annah diam sejenak diambilnya sapu tangan untuk menyeka Air matanya. Dia menceritakan perihal lamaran ustads hingga ia menerimanya. Aku mendengarkan sambil rebahan. Kutatap kosong langit-langit. Mataku berlinang. Tak tahan mendengar cerita Annah. Tapi aku tak bisa
menyalahkannya.
”Sebelum aku memberi keputusan ke ustads, aku menelponmu, aku ingin minta pendapatmu, sayang ponselmu nggak aktif. Akhirnya kuterima lamaran mereka, tiga hari lagi insya Allah aku menikah di depan Kabah,”
Aku diam mematung. Saat Annah  menelpon hapeku ketinggalan karena aku pergi menemu Soraya yang dilanda musibah. Aku harus menghadapi kenyataan. Kucoba membaca pikirannya.
”Kamu ikhlaskan Ton, aku menikah dengan orang lain?”
Aku sulit menjawabnya. Dia bertanya saat sudah membuat keputusan. Aku tidak punya jawaban lain.
“Insya Allah Annah, jagalah harga dirimu dan martabat keluargamu. Kalau kau sudah berjanji janganlah mengingkari. Meski bagiku berat, tapi aku lebih keberatan lagi kalau Allah akan melaknatmu gara-gara kau ingkari janji.”
“Wahai wanita suci, rekatkanlah silaturahmi. Jagalah ukhuwah Islamiyah. Jagalah nama baik keluargamu Jangan pikirkan aku, aku orang biasa belum tentu bisa membahagiakanmu.’ Annah  menangis. Andaikan agama ini tak melarang aku ingin mengusap air matanya. Aku ingin mendekapnya supaya dia tidak sedih. Gadis itu mengambil sesuatu dari tasnya.
”Ton, terimakasih mushab darimu cantik sekali. Aku punya kenang-kenangan untukmu. Ini tasbih milik ayahku. Kemana-mana aku bawa. Kini kuberikan padamu, supaya kita bisa menjalin silaturahmi selamanya,”
Kupandangi wajah Annah. Kujulurkan tangan menerimanya. Sebuah tasbih dari kayu cendana. Dari luar Toyib berteriak mengajakku makan. Aku pun meninggalkan gadis itu.
”Jaga diri baik-baik Annah, semoga bahagia,” kataku. Matanya sayu. Aku tak tahu apakah setelah ini masih bisa melihat gadis Melayu itu lagi.
Toyib tahu aku berduka. Sebenarnya aku tak selera makan, tapi kupaksa mulut ini
mengunyah.
”Berita pernikahan Annah sudah menyebar ke mana-mana. Hampir semua petugas
membicarakannya,” ujarnya. ”Toyib... memang jodoh urusan Tuhan. Tapi dalam kasus ini, aku ikut andil atas keputusan Annah, karena aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku. ” ”Sudahlah, lupakanlah Annah.,” katanya menepuk pundakku.
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar